Tabloid Otomotif, November 2004
Jebolnya mesin Toyota Great Corolla milik tim Garda Oto Racing (GOR) ini membuat Taqwa Suryo Swasono, manager tim, lemas. Spesifikasi grup A racikan Jepang di pertengahan tahun 1990an itu memang istimewa. Sebagian besar komponen mesin bukan produk yang dijual umum di pasaran. Namun ini justru jadi tantangan berburu komponen pengganti di tiga benua.

FORMULA TOYOTA
“Mesin over rev saat dipakai drag race. Blok pecah dan kepala silinder berikut jeroan hancur, termasuk kem dan main shaft gigi transmisi ikut patah,” terang Taqwa yang juga bos bengkel Garden Speed mengenang kejadian enam bulan silam.


Komitmen dengan sponsor harus diteruskan. Komponen pengganti dicari, bahkan beberapa didapat dengan spesifikasi di atas mesin lama secara special order. “Mesin seperti ini masih dipakai buat balapan Formula Toyota di Jepang.”
Tak semua didapat di Jepang, kem justru jadi kendala besar. “Pihak Jepang cuma mau jual bahan, mereka lagi sibuk balapan, sedangkan bubutnya di Amerika, “sebut Taqwa. Sial, pihak Amerika kemudian menolak melakukan proses pembubutan.

Titik terang lantas didapat dari benua Eropa (Belgra Motoring, Jerman). Bahan kem yang sudah sampai Amerika harus berpindah benua. “Kem buat mesin 20 katup memang special, soalnya katup intake ada tiga.”
Enam bulan sudah proses perburuan komponen dilakukan. Seluruh pengganti asal tiga benua : Asia (Jepang), Amerika dan Eropa (Jerman), akhirnya bertemu di Indonesia. Siap menjawab tantangan musim kompetisi tahun depan.


JINAK DIBAWAH, GALAK DI ATAS
Corolla ini terlahir sebagai mobil balap turing sejati. Putaran bawah terasa loyo, sulit diajak melejit saat start. Buat bikin mobil maju pertama kali saja perlu trik khusus. “Saat start, mesin gue tahan di 6000 rpm,”terang Fitra Eri, pembalap tim Garda Oto Racing yang memakai mobil ini. Di bawah 6000 rpm, tenaga belum maksimal. Jalan di kecepatan sedang pun terasa tersendat. Saat cruising di kecepatan rendah, injakan di pedal gas harus stabil. Cilekan sedikit saja membuat rpm langsung melejit. Sensasi baru terasa di putaran tinggi. “Saat balapan, pindah gigi di 10.000 rpm, “sebut Fitra.

Tak hanya laju mobil yang terasa sangat spontan, namun juga pengendalian. Bantingan suspensi yang luar biasa keras ternyata menyumbang traksi maksimal saat zig-zag di kecepatan tinggi.
Setir yang tak dilengkapi power steering terasa narik kiri-kanan saat berakselerasi. Ini akibat tertanamnya peranti LSD (limited slip differential) di roda depan. Jelas, pengemudinya harus terbiasa dengan karakter mobil ini.





