Tabloid Otosport, Desember 2000
Siapa bilang bikin tunggangan balap kudu ribet dan bermodal gede?
Buktinya, dua jawara ini berjaya lewat mobil harian mereka.
Murah pula.
Kuncinya, modifikasi efisien.
Seperti dibuktikan M. Rizal Saenong dan Widianto Nugroho dua jawara Grup N nasional. Keduanya mahasiswa di salah satu universitas swasta Jakarta. Merelakan mobil kesayangan diracik jadi besutan balap.

“Tadinya cari-cari bengkel alternatif”, tutur Widi, sapaan akrab Widianto. Itu karena biaya servis di bengkel resmi membengkak akibat krismon. “akhirnya malah sepakat membangun pacuan Grup N, setelah omong-omong bareng Taqwa SS”. Estilo berkelir ungu itu pun masuk bengkel GARDEN SPEED.
Pun begitu dengan Corolla GTi milik M. Rizal. Ternyata tak rumit yang harus dilakukan untuk punya mobil juara. Terbukti dari minimnya modifikasi. Malah saking dikitnya, besutan balap ini tetap mengemban tugas sebagai mobil harian. “Kelar balapan langsung disulap lagi jadi mobil pacaran”, aku pemuda yang akrab disapa Jaleey (baca : Jali). “Paling cuma ditinggiin lagi, plus pakai ban jalan raya”, imbuh Widi. “Ya namanya juga Grup N. mau diapain?”, kekeh Taqwa. Pendapat itu diamini Ir. Yogi Primantoro, punggawa IJO MotorSport yang menggawangi GTi milik Jaleey. “Harus ikutan regulasi”, tutur mekanik yang ngebengkel di seputaran Bekasi itu. Hampir nggak percaya saat 2 pembalap itu menyatakan biaya yang dikeluarkan membangun besutannya. “Berkisar di angka 20 jutaan”, senyum Widi. “Sudah semuanya dan itu pun dicicil”. Kaget? Jangan dulu. “Eh, nanti kalau saya sebut jangan diketawain ya?”, sipu Jaleey. “Semuanya gak lebih dari 5 juta perak”. Duh! Masa sih?
Toh dengan modal irit, dua sedan ini mampu menjajah Sentul. Bukti dari efisiensi modifikasi.
MESIN
Roh Estilo tak banyak berubah. Cuma ‘dihinggapi’ beberapa peranti kompetisi macam koil Crane Cams PS91 dan filter angin K&N. Ditambah kabel busi Hurricane 8.8 mm dan busi Autolite 3910.

Semua komponen bergerak dibalans ulang. Lalu, “Kalau mesin ini, kuncinya ada di injeksi”, bisik Taqwa. Sistem pasokan bahan bakar itu pun di remap komputernya. Sekarang rev limiternya ada di 8.200 rpm”, kata mekanik berbadan gempal itu. Sementara penerus daya dibiarkan apa adanya.

Dapur pacu Corolla GTi lebih sederhana. Mengandalkan balans ulang piston, batang piston, flywheel dan kruk as. Sisanya dibiarkan orisinal. Kecuali kepala silinder yang mengalami pernapasan sekitar 1 mm. Guna menaikkan kompresi.
“Aslinya mesin ini sudah mumpuni. Cuma settingan harus pas betul”, ungkap Yogi. Pengapian pun dibiarkan perawan. Koil, kabel busi dan CDI tak tersentuh. Hanya menjagokan busi Autolite tipe 3910.
INTERIOR
Terondol? Iya lah! Tapi tak begitu ekstren. Estilo cukup menambahkan jok racing buatan I-Tech, Bandung dan rollbar 4 titik produk lokal berbahan baja seamless. Tambah sabuk pengaman 4 titik merek Daist. Di dasbor orisinil, nemplok Shift Light Autometer. Sisanya, asli pabrikan lengkap dengan tape dan AC-nya. “Kalau balapan, CD changer gue cabut”, kata Widi.

Sempat mencuri mata, foto seorang cewek menutupi panel instrumen. “Itu jimat!” Hah?
Nasib serpa dialami GTi. Jok racing Sparco dan seatbelt 4 titik nemplok. Ditambah rollbar lokal 4 titik. Bahkan console box tetap nangkring di posisinya. Bedanya, milik Jaleey kagak pakai foto cewek!

KAKI-KAKI
Menurut beberapa mekanik unggulan, inilah bagian yang jadi andalan Grup N. Pasalnya, cuma ini yang dapat dimainkan habis. Otomatis, sebagian besar proyek pembangunan diutamakan ke sini. “dari seluruh dana tadi, sekitar setengahnya ‘lari’ ke suspensi”, cocor Widi.
Kit suspensi bawaan Estilo jelas tak mumpuni untuk dijajal di sirkuit. Gantinya, sokbreker Koni Sport dan per Jamex jadi andalan. Kontan, ground celarance sangat menipis. Cuma sisa sekitar 5 cm dari aspal. “Sangat membantu, bushing berbahan polyurethane buatan Australia”, ungkap Taqwa. Dengan bushing itu, kemampuan mobil melibas tikungan sangat menawan. Tak ada limbung. “Tapi karena bushing itu, waktu gue tertolong sekitar 2 detik!”, aku Widi yang kerap terlihat flat-out di Sentul. Widi cukup pede dengan pelek standar dibalut ban Bridgestone Potenza RE711 ukuran 185 X R14 X 60.
Lain cerita GTi milik Widi. Kecuali sokbreker Bilstein di depan, Koni Sport untk belakang dan per lokal yang dimodifikasi, sama sekali tak ada komponen kompetisi. Semuanya asli STD alias standar pabrik. “Cuma saya tambah spacer di roda belakang, mengurangi buangan pantatnya”, jujur Yogi. Menopang beban, pelek racing lokal merek Enkei dipercaya. Bannya kembar dengan tunggangan Widi.
Nah, peranti pengereman keduanya mempercayakan produk standar. “Cuma selangnya gue ganti yang bagusan”, ucap Taqwa. GTi memakai kampas rem non asbestos buatan Mintex, sementara Estilo cukup bawaan pabrik.





