MODIFIKASI Menghapus Ciri VW Dengan 4A-G

Tabloid Otomotif, Desember 2000

Sudah bukan hal langka, jika para penggemar VW tak lagi mengadopsi mesin asli kendaraannya. Larinya pun kencang dan bertenaga. Coba buka kap mesin mereka, sebagaian besar dapur pacunya sudah terisi dengan mesin dari mobil lain. Malah, ada yang sampai mengadopsi jeroannya Porche, lo.

Begitu halnya Utomo Rahardjo, fotografer freelance Actice Digital, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Penunggang VW kombi ’77 berkelir biru metalik ini, ikut trend ganti jeroan. Tak tanggung-tanggung, dia mengadopsi mesin 4A-G Toyota Corolla. “Jadi serasa namabah satu mesin lagi”, bangganya.

NARIK PESAWAT

75a-vw

Modifikasi berawal dari hobinya sebagai atlet terbang layang DKI Jaya. Kendaraannya ini sering digunakan sebagai towing trailer untuk membawa pesawat tanpa mesin. Makanya, mobil butuh mesin bertenaga besar. “Kadang-kadang, dipake untuk ngelepas pesawat saat lepas landas”, terang anggota PORTELA (Persatuan Olah Raga Terbang Layang) DKI Jaya ini.

Mulanya, pria berusia 36 tahun ini kebingungan dalam memilih mesin pengganti. Namun, berkat saran dari rekan sesama pecinta terbang layang, Taqwa, yang juga punggawa bengkel GARDEN SPEED, di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Dia disarankan memakai mesin 4A-G. “Mesin lama ka power band-nya pendek. Agar tenaganya besar, harus memakai mesin yang power band-nya panjang”, alasannya.

Pembuatan braket dan mounting dilakukan sendiri oleh Utomo. Untuk urusan adaptor ke persneling dan fly wheel, dia berpaling ke buku/kayalog berjudul Kennedy. “Kennedy adalah perusahaan di Amerika, spesialis pembuat kopling, dekrup, adaptor dan flywheel modifikasi. Di situ ditulis 80 merek / jenis mesin yang bisa diadopsi VW, hebat kan?”, terangnya. “Jadi nggak susah-susah lagi, tinggal pesen “, lanjut pria berkacamata ini.

Kalo urusan mesin, diorder langsung oleh Taqwa dari Singapura. Dapur pacunya itu dipesan dengan option racing. Intake untuk karburator four barrel, per klep merek TRD dan piston kompetisi menjadi option bawaan. Sebelum mesin dipasang, terlebih dulu dibedah dan dibalans ulang. “Karena flywheel -nya kan diganti”, alasannya.

PEMBUKTIAN

75b-vw

“Pemasangannya nggak ada masalah. Karena adaptor Kennedy sudah pas / cocok dipasang di mesin 4A-G ini”, tutur Taqwa. Begitu pula flywheel-nya, karena memang sudah dimodifikasi oleh Kennedy untuk mesin Toyota.

Karburator mengadopsi four barrel ukuran 45 mm jenis side drag berlabel Weber. Sebelum dipasang terlebih dahulu dio-setting ulang, untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Karena di mesin baru ini, sudah ada intakenya, maka pemasangannya tidak sulit.

Pertama, dudukan mesin diukur dan diset. Biar kuat, dilas CO. Baru kemudian, mesin dipasangkan. Lalu, diadopsi pula adaptor, flywheel dan persneling aslinya.

Yang jadi kendala, pemasangan radiator. Karena ruang mesin sudah penuh, akhirnya pendingin mesin itu dipasng di kolong bodi. Untuk itu, dibuat dudukan baru dan diberi casing berbentuk kisi-kisi. Gunanya, agar udara dapat langsung menuju radiator.

Nasib sama menimpa AC dan dua kipas elektrik. Pemasangannya pun harus pakai pertimbangan. Karena letak radiator di bahwah mesin, slangnya harus dibuat landai naik. “Supaya nggak ada gelembung udara yang naik ke mesin”, kilah Taqwa. Tahap akhir yang agak memakan waktu, setting pengapiannya. “Karena harus dicari waktu pengapian yang ideal dan pas”, sambungnya.

Pemasangan mesin 4A-G ke VW kombi ini adalah proyek pembuktian Taqwa. Toh, melihat betapa tersitanya waktu (kesehariannya disibukkan urusan balap), pria bertubuh subur ini menolak kalau ada ‘pasien’ serupa. “Ini proyek pembuktian aja kok, bahwa gue bisa nih” kilahnya.

Setelah dicoba, memang dirasakan lebih bertenaga. “Kira-kira tenaganya bertambah 20-25% lebih besar,”tutup Utomo. Tarukan dan akselerasinya pu lebih yahud. Paling utama, suara ciri khas mesin VW terhapus sudah.