Tabloid Otomotif, Mei 2006
Dua pembalap Nasional Aldo dan Fitra Eri ketat hingga lap terakhir. Ketika keduanya menyentuh garis finish di lap ke-is kelas Indonesia Grand Touring Championship (IGTC) Perumrna Fastron Indonesia Touring Car Championship di sirkuit Sentul. Bogor. Minggu (7/5) tak ada berani langsung memastikan pemenangnya Akibatnya. para ofisial berlari ke tower untuk melihat catatan waktu.

DARI BAWAH
Hanya berbeda 0.006 detik atau setara 1/8 diameter ban mobil. Tipis sekali! itu keunggulan Fitra Eri yang membela tim Garda Oto. Di sisi lain. tim Mezzo Toyota Team indonesia tetap
happy kendati nomor dua Pasalnya, pemenangnya tetap Toyota. Kebetulan Fitra maupun Aldo menggeber Vios.
ini pertanda sukses awal kelas yang baru dilahirkan 5 hari sebelum gelaran. Hebatnya. peserta sampai 25 mobil. Kalau iGTC menarik, salah satunya karena mobil yang dipakai nlasih
gres di pasaran. Sehingga ATPM juga punya kepentingan jualan produknya. Cara promosinya, ya di kelas ini.
Tapi. yang membuat IGTC bakal besar mrena berangkat dari kebersamaan. “Gagasannya dari bawah. di-
diskusikan bersama, dan saling beretika. Kalau sebelumnya kan regulasi dari atas. lalu ada kesan dipaksakan untuk dilakukan. Di IGTC. semua dibahas bersama,” ungkap Fitra Eri.
koordinator GT Car Team Association.
Asosiasi berisi panel 6 orang. yakni Alvin Bahar (Honda Racing), Sidarta SA (Suzuki Swift). Memet Jumhana (MTTI).
Chandra Nim (pembalap sufor), Jimmy Lukita (senior) serta Fitra (media). Seluruh aspirasi digodok melalui panel
yang mewakili seluruh unsur itu. Selanjutnya diajukan ke PP IMI.
Satu keputusan telah dimatangkan buat seri kedua. memakai one make tyre. Kabarnya, menggandeng produsen ban PT Gajah Tunggal. Tujuannya, membuat balapan lebih kompetitif dan murah.
Namun dianggap lebih penting. menjaga para peserta mewakili merek sepakat berkiprah sepanjang musim. Makanya soal etika saat berpromosi di kedepankan. “Bagi yang menang enggak boleh menjelakan merek lain. Caranya, ya mengangkat merek sendiri aja.” ungkap Memet Jumhana.
SINERGI
Ketatnya persaingan karena secara teknologi mobil yang berlaga setara. Yakni Swift Vios, Yaris hingga Honda Jazz VTEC yang memang berbasis mesin 1.500 oc. Ini tentu menjadi roh keias lGTC. karena regulasi mengacu grup N dengan kapasitas mesin maksimal 1500 cc dan masih dipasarkan APTM.
Jangan heran Budjojo Nirjana, direktur marketing PT Indomobil Niaga international (IMNI) menyambut positif. “Yang ini. kami pasti letih antusias. Karena mobil balapnya masih kami jual sipasaran.” ungkap Joy, sapaan akrabnya.
Jonlis Fandy. bos norma Prospect Motor. Ingin kelas ini berkembang. “Balapan sudah bagus, sayang kalau harus surut. Caranya. ya bersinergi antara balap. sponsor. promosi dan entertain agar maju. Untuk dua terakhir sebaiknya dipush lagi agar penonton enggak sepi seperti sekarang.” kate Jordis.
Menanggapi itu. Lola Moenek selaku general manager sirkuit Sentul ingin kerjasama dengan peserta dan sponsor. “Promosi sudah dilakuan, tetapi porsinya enggak bisa besar. Karena dananya memang dibagi. termasuk buat penyelenggaraan balap.Juga misalnya hadirkan grup musik, terkendala dana,” urai Lola.
Toh. Haslo Wibowo selaku manajer pelumas Pertamina ingin terus mendukung gelaran di balap turing. “Sudah menjadi komitmen kami memajukan balap. Harapannya. dari sini bisa lahir pembalap berprestasi internasional.” ungkap Hasto.
Alvin Bahar menilai. dari sisi balap juga makin seru. Terutama perubahan penilaian dari 20 untuk juara satu
menjadi 15 memungkinkan lebih ketat. “Vios yang berjaya di seri pembuka, belum tentu mengulang sukses di seri kedua karena mendapat tambahan beban sampai 60 kg.“ kata Alvin.
Seri kedua giliran Honda apa Suzuki ya?





