Tabloid Otomotif, 1999
FORD TX 3 1989 BOSAN ADU CEPAT KEMBALI KE HABITAT
Kodrat awal mobil sebagai alat transportasi, dipahami betul oleh Daniel Purwokohadi. Mobil harian yang tadinya dipakai untuk drag race, sekarang dikembalikan ke habitat semula. Yaitu untuk menunjang aktivitasnya ke kampus.
Selain itu, Yusi sang doi pun menganjurkan agar ia lebih memfokuskan dulu pada pendidikan. Gayung pun bersambut. Demi sang kekasih, Daniel oke saja. “Lagian, selain dananya gede, musuhnya juga top-top. Wah, keder juga gue”, kekeh mahasiswa Universitas Pancasila, semester sepuluh ini.
JADI MODIS

Bisa dibilang, dulu sebagian besar tabungan pria berkacamata minus ini tersedot untuk memenuhi hasrat mengukir prestasi di ajang 402 meter. Sayang, predikat yang ditunggu-tunggu belum juga tercapai. Ia pun berpikir seribu kali. “Padahal, dulu gue penasaran banget sama lomba itu, lo”, kata bujang 23 tahun ini. Lain dulu, lain sekarang. Ibaratnya sperti lagu Scorpions berjudul, Wind of Change, semua telah berubah total. Sisa tabungan yang ada, dimanfaatkan untuk ngebangun mobil yang kondisinya semikompetisi itu.
Bedanya, dulu tampilan luar dianggap biasa karena lebih mementingkan kecepatan. Sekarang aspek tampilan luar modis jadi tujuan utama. Warna bodi yang tadinya sudah belel, mirip celana jins, harus dikerok. Bibit karat pun disingkirkan lewat pengelasan ulang.
Setelah cat dasar nemplok di sekujur bodi, dipilih warna signal red oplosan sendiri untuk melapisnya. Bentuk bumoper dipermanis lewat penambahan bibir. Sedang bagian depan, ditambah spoiler berwarna senada bodi. Selain sebagai pemantas, kemampuan membelah angin, diakuinya oke banget. Lampu depan yang memang sudah cocok, tetap dipertahankan.
Giliran kaki-kaki, pelek diruntuh lebih dulu. Standarnya terpaksa ‘dirumahkan’. Gantinya, Intermilano berdiameter 16 inci, dibalut ban AVS Yokohama 195/50 untuk keempat rodanya. “Biar nggak cingkrang, gue siasati dengan mengadopsi lowering kit Mazda 323 dari Jamex”, cerita cowok romantis ini.
Menemani per, dipakai sokbreker model gas Gabriel untuk depan dan Monroe di belakang. Lantaran jarak antara roda dengan bodi tinggal dua jari, Daniel terpaksa melihat bibir sepatbor.
Interior juga ikut didandani. Tampilan resik dan bersih jadi motivasinya. Tidak ada ruang mampir buat abu rokok. Sementara jok kulit, dipilih model elektrik buatan Recaro. Setir dan tongkat persnelingnya dari Nardi. Sengatan sinar matahari diserap agar tak menembus kabin oleh V-kool.
Agar makin sreg, Daniel tak lupa memasang pemanja telinga. “Biar gue nggak bete waktu berduaan dengan yayang”, tambah Peda, begitu ia biasa disapa. Tapi karena dua sejoli ini suka lantunan Phil Collins dan Mariah Carey, sistemnya sebisa mungkin mengakomodasi untuk jenis lagu itu.
Dipilihlah head unit Sony XR U330 dipadu CD changer Sony CDX-70. Sedang speaker Kenwood HQ 690 didukung 2 power MB Quart 2300. Satu power lagi, untuk menopang subwoofer Music Boy. “Aduh, sebenarnya gue malu nih cerita-cerita audionya. Habis nggak heboh banget sih”, sela Daniel.
Meski begitu, musik yang dihasilkan tetap mantap. Apalagi ditambahkan TV 5 inci Casio M420S, perolehan suara dari partai pemilu pun bisa dipantau dengan jelas.
Selanjutnya, lantaran Ford ini cuma dipakai untuk ke kampus, mesin ditata kembali. Artinya, tak seheboh mesin drag. Bagian-bagian yang masih bisa ditoleransi untuk keperluan sehari-hari tetap dipakai. Seperti kepala silinder yang sudah dipapas dengan tingkat tak terlalu ekstrem.
Per klep diadopsi dari buatan Jones. Piston berikut ringnya karena masih baik, tetap dipakai. Kruk as dan roda gila dibalans ulang. Header model 4-1 berikut peredam Flowmaster bekas drag, tetap dipakai sebagai penyaluran sisa gas buang.
Kenyataannya, kemampuan mobil settingan Taqwa GARDEN SPEED ini masih di atas rata-rata. “Sekali-sekali, kan juga ingin ngebut”, imbuh calon ‘tukang’ insinyur elektro ini. Untuk sementara Daniel menganggap modifikasinya cukup sampai di situ dan memuaskan.
Tapi begitu modifikasinya sudh jadi, eh, malah kebanyakan parkir di garasi. Ia jatuh hati lagi sama Fiat Uno Turbo. “Habis settingan Australia, sih”, candanya.
Ah, dasar!




