VOLVO Menteri Anak Muda

Majalah Mobil, 2001

Konon, ciri pemilik Volvo lawas itu mudah dikenali : umurnya di atas 50 dan selalu berpakaian model safari. Seperti menteri, saat bicara acap diselingi batuk-batuk kecil. Satu hal lagi : mereka suka kemapanan. Karena itu, jangan pernah berani berfikir mereka mau ‘mereformasi’ tampilan Volvo tunggangannya.

Apalagi amat sulit mencari kit modifikasi sedan Skandinavia ini. Kalaupun ada, paling banter ganti emblem atau sekedar menambahkan spoiler. Ini pun harus spoiler yang desain dan dudukannya benar-benar cocok dengan karakter bodi Volvo. Kalau asal comot, bisa-bisa ambruk perform,ance sedan pejabat itu. Sedangkan untuk memodifikasi mesin, nanti dulu!

35-volvo

Tapi, Ical, pemilik Volvo yang satu ini boleh dikecualikan dari barisan penggemar Volvo produksi 1992 umumnya. Sebaliknya, ia justru ingin mengubah citra Volvo yasng lekat dengan para sepuh dan menteri kabinet ini. Pengusaha ekspor impor yang enggan disebut nama lengkapnya ini, mengirim ‘mobil kabinet’ itu ke rumah modifikasi.

Hasilnya, Volvo 960 station wagon miliknya itu cocok buat Pak Menteri yang cinta reformasi. Dari balik desainnya terkesan adanya nilai lebih ketimbang Volvo standar milik Pak Menteri. Taqwa Suryo Swasono, pemilik bengkel GARDEN SPEED yang dipercaya Ical, menyulap tampilan Volvo sama sekali lain. Kesan Volvo mobil toku langsung luntur. Yang muncul adalah sedan anak muda yang tak cuma trendy, melainkan juga dandy.

Semula Taqwa, komandan GARDEN SPEED hanya mendapat order memperbaiki kemampuan dapur pacu Volvo yang dinilai amat memble dan tak oke untuk anak muda. Menurut Ical, akselerasi dan performa mesin sedan serba guna kebanggaannya itu dianggap kurang gila. Padahal di dalam mesin berkapasitas 2.300 cc itu sudah dipendam perangkat turbo. “Kita memperbaiki turbonya dengan menambah boost controler”’ urai Taqwa.

Langkah yang dilakukan Taqwa itu ditempuh untuk meningkatkan efisiensi volumetrik tanpa mengorbankan kenyamanan. Namun, risikonya, pengaplikasian peranti penambah daya racikan HKS itu, mesti diikuti dengan rekayasa menyeluruh pada bagian mesin. Cuma, pada Volvo 960 station wagon ini, prioritas penanganan hanya menyentuh bagian silinder. Sudah pasti tindakan ‘breidel’ ini juga dilakukan pada per klep standar. Sebagai gantinya, Taqwa mencomot tipe kompetisi rancangan TRD.

Aplikasi komponen kompetisi yang khusus untuk Toyota itu tidak dapat berjalan mulus. Beberapa bagian mesti dimodifikasi untuk mendapatkan ketinggian dan kelenturan yang dibutuhkan. “Prosesntya rumit dan harus teliti”, aku Taqwa. Tentu saja, tindakan pengurangan dan penghalusan pada bagian kepala silinder juga dilakukan.

Pngapian ikut dibenahi. Koil standar disimpan dan diganti Crane cams PS 91. Hal serupa juga dilakukan pada kabel busi. Agar arus listrik baru yang dihasilkan Crane cams PS 91 dapat diterjemahkan secara sempurna, dipilih kabel busi rancangan Jacobs.

Hasil rekayasa itu berdampak pada peningkatan konsumsi bahan bakar. Lonjakannya berkisar antara 8-12%. Tetapi, kenaikan unjuk kerja mesin juga amat dirasakan. Taqwa memperhitungkan unjuk kerja mesin melonjak sekitar 25%.

Puas menggarap dapur pacu, rekayasa dilanjutkan ke arah kaki-kaki. Seperti pada mesin, beberapa bagian yang bersentuhan dengan badan jalan ikut dilolosi. Dimulai dengan mengganti per keong dan sokbreker standar. Per diganti produk H&R, untuk peredam kejutnya dipilih rancangan Bilstein.

Kombinasi dua peranti itu melahirkan efek yang diinginkan. Hanya saja, untuk menyempurnakannya, dibutuhkan dukungan pelek dan ban yang sepadan. Maka, dipilihlah pelek Viper berdiameter 18 inci bermodel jari-jari. Sedang karet pembungkusnya, masing-masing digunakan Michellin Pilot SX berdimensi 235/40 untuk depan dan Dunlop SP Sport 8000 ukuran 245/45 untuk belakang.