Suzuki Vitara 1995 REINFORCE KAKI-KAKI MODAL KOMPETISI

Tabloid Otomotif, Maret 2001

Suzuki Vitara 1995 REINFORCE KAKI-KAKI MODAL KOMPETISI

Balapan baru buat penyuka jip gawean IOF yaitu SODA (Short Course Off-Road Drivers Association) Racing, ternyata mampu membuat banyak orang penasaran. Salah satunya Mario Alvin, pembesut Suzuki Vitara 1995 yang bertarung di kelas III-S. Pemuda berumur 23 tahun ini, sangat berambisi menjadikan tunggangannya ditakuti lawan maupun kawan. Baik itu yang sekelas maupun di kelas lain.

ILMU RELI

74a-vitara

Maka ia memilih minta tolong Taqwa dari bengkel GARDEN SPEED Jakarta, untuk menangani modifikasi kendaraannya. Mau tahu apa saja yang dilakukan jagoan mesin kompetisi itu? Mari kita bedah mobil kelir putih, yang berhasil menyabet gelar juara 1 di kelasnya dan peringkat III klasemen umum dalam SODA Racing (SR) 2001, di Telaga Golf Sawangan, Depok beberapa waktu lalu.

Lantaran masih buta terhadap regulasi SR, terpaksa mekanik yang gemar terbang layang ini nekat menerapkan beberapa ilmu bagaimana merombak mobil reli. “Reinforce bodi dan sasis jelas mutlak dilakukan”, papar anak ketiga dari empat bersaudara. Akal-akalan lain hasil pengalaman mengikuti beberapa gelaran reli coba diterapkan.

74b-vitara

Untuik mengeliminasi gejala fleksibel diatasi dengan menambah semua konstruksi sasis yang melengkung dengan pelat besi setebal 4 mm. Sedangkan rongga pada arm ikut ditutup pelat besi juga. Dudukan gardan termasuk pula target sasaran reinforce. Semua pengerjaannya memakai teknik las dingin. Kaki depan makin tahan banting, setelah link bar dari sasis ke lengan ayun depan turut ditempelkan.

Sementara itu dudukan sokbreker depan ditata ulang. Dibikin tidak menempel bodi. Caranya dengan membuat dudukan baru dari pelat besi yang langsung menempel sasis. Sokbreker standar pun dirasa perlu ditukar Bilstein 40 mm, dipadu per keong minibus yang dilengkapi setelan ulir (adjustable). Maksudnya agar kaki-kaki Vitara tak mudah keseleo saat jumping maupun melibas trek bergelombang.

Lubang bracket suspensi depan ikut pula diubah. Sekarang menjadi 6 baut (3 kiri 3 kanan) dari sebelumnya 3 baut melingkar. Suspensi belakang disesuaikan. “Biar enak bawanya ketika habis ’terbang’ di gundukan tanah, pantulan belakang jangan terlalu banyak:”, pinta Mario, joki andalan tim GT Radial. Pilihannya menanam sokbreker Rancho RS-5000 dikombinasi per spiral yang lebih tebal.

Kemudian limiting strap dari sling baja dicangkokkan. Panjangnya disesuaikan jarak main sokbreker dan diukur mulai sudut as roda. “Hal ini sering dilupakan orang. Tak heran banyak yang as rodanya patah sehabis jumping”, celoteh Taqwa. Eh, yang ini ilmu reli juga lo.

NEGATIF CAMBER

Bagian terpenting dan paling susah adlah menentukan settingan roda. “Kontur tanah di Sawangan bikin mobil godek terus”, keluh Mario. Keadaan itu tentu saja membuat handling jadi makin sulit. Kecepatannya pun pasti berkurang. Beruntung sarjana komputer jebolan Universitas Bina Nusantara Jakarta ini, ditemani mekanik dengan segudang pengalaman. Sulosi jitu segera ditemukan sehabis sesi latihan.

“Roda depan dibikin two out. Totalnya 0,4 derajat “, bisik Taqwa. Sementara itu kemiringan sokbreker depan sengaja dibuat berbeda antara kiri dankanan. Alasannya lintasan sirkuit SR Telaga Golf Sawangan tikungannya lebih banyak ke kiri.

74c-vitara

Setelah diuji coba lagi konfigurasi paling pas yang diperoleh, roda kirinya miring 2,4 derajat sedangkan roda kanan 1,7 derajat. Penyetelannya dilakukan dai dudukan baru sokbreker depan yang terdiri dari 6 baut. Dengan negtif camber ini, ,melahap tikungan dan tanjakan tak lagi bermasalah. Gejala godek-godek pun langsung hilang.

Supaya makin lincah bergerak di tanah basah maupun kering, pelek 15’ dibalut ban Bridgestone Jeep Service 7.00-15. Sayangnya, tak semua kembangan ban mampu mencengkram tanah. Namun pada balapan berikutnya sudah siap dibenahi. “Perlu dicutting biar lebih menggigit”, papar pemuda berumur 30 tahun ini.

Selain itu tak lupa Taqwa memasang automatic free lock buatan Suzuki di gardan depan. Sedangkan buritannya menggunakan Limited Slip (LS). Sehingga Suzuki Vitara Mario tetap mampu melaju kencang meski melintasi lintasan becek.

RAHASIA SUARA CUIT-CUIT

Ketika bendera start dikibaskan, ‘kumbang putih’ besutan Mario melesat kilat bak anak panah lepas dari busurnya. Suara mesinnya pun bikin penonton geger. Bagaimana tidak? Begitu gas dibejek penuh, terdengar suitan nyaring. Mirip mesin turbo. Padahal kalau dibuka kap mesinnya, yang terlihat cuma dapur pacu bawaan pabrik.

“Semua jeroannya masih standar”, jujur Taqwa. Hanya komponen seperti roda gila, kruk-as, metal setang piston dan piston semuanya perlu dibalans ulang. Saluran buangnya menggunakan header 4-1. Sedangkan pengapian mengandalkan kabel busi dan koil berlabel Quantum. “Sudah! Itu saja”, cerocosnya. Ah, apa iya sih?

Menurut pria asal Jakarta ini, alasan kenapa tak melakukan langkah porting atau mengganti komponen kompetisi seperti pada mobil balap pada umumnya, lantaran trek SODA Racing butuh ketahanan mesin. “Kuncinya cuma satu. Naikkan performa injeksi lewat remaping ECU (electronic Control Unit)”, beber mekanik yang biasa menangani mobil reli dan drag race.

Hasil konfigurasi baru ECU itulah yang membuat roda empat buatan jepang tersebut bisa bersuit nyaring. Saat ini taqwa memang lebih memilih memaksimalkan settingan suspensi. “Jika sudah ketemu, baru meningkatkan performa mesin. Mungkin dengan memasang beberapa onderdil racing”, cerocosnya. Racikan mesin Suzuki Vitara itu, diakuinya masih 10% dari yang seharusnya bisa dilakukan.

Supaya dapur pacu tak gampang mati terkena percikan air, throttle position sensor dan distributor dibungkus rapat. Kabel busi dan semua sambungan kabel diolesi sealer. Pada gelaran adu kebut mobil off-road seri berikutnya, Mario sudah mulai ancang-ancang. Targetnya mengasapi peserta 3-U (production unlimited) di mana mobilnya rata-rata memakai turbo / supercharged. Pokoknya harus bisa tercepat di klasemen umum”, tekadnya.

Ya, buktikan dengan prestasi dong!