PERFORMA BUKAN SEGALANYA

Majalah Mobil Motor, Agustus 2001

Balap mobil turing makin marak akhir-akhir ini. Buktinya, balap Timor Touring Car sudah tidak digabung lagi dengan balap mobil Grup N. Sementara, peminat balap Grup N sendiri juga makin bertambah. Untuk balap Grup N atau Grup Normal, modifikasi mobilnya tidak jauh berbeda dengan mbil standar. Modifikasi yang diperbolehkan paling hanya penggantian kabel busi dan businya, koil pengapian, membalans ulang piston dan stangnya, poros engkol, roda gila, serta program ulang Electronic Control Unit (ECU).

114a-estillo

Untuk mesin tetap tetap standar, namun yang sering dilakukan para tuner mobil Grup N hanya sekadar memainkan celah ring pistonnya. Dengan demikian, perbandingan kompresi bisa dimaksimalkan tanpa menimbulkan kebocoran, sehingga daya mesin keluar lebih sempurna. Melalui sedikit sentuhan modifikasi, performa mobil jadi meningkat drastis. Ini menarik! Karena itu pada laporan utama ini kami mengulas ujicoba beberapa mobil balap dari beberapa merek, yaitu Timor DOHC, Toyota All New Corolla, Honda Estilo, dan KIA Rio.

114b-estillo114c-estillo

Dari segi mesinnya, kendaraan di atas memang berbeda. Untuk Rio berkapasitas 1.500cc, All New Corolla 1.600cc, Estilo 1.600cc dan Timor DOHC 1.500cc. Mobil-mobil ini masuk dalam satu kategori Grup N3, yang terbagi dalam kelas 1.301cc – 1.400cc dengan bobot 900kg. 1.401cc – 1.500cc berbobot 975kg. 1.501cc – 1.600cc bobot minimal 1.050kg.

Secara teori, mobil yang kapasitas mesinnya lebih besar akan memberikan performa lebih baik. Namun, dalam balap mobil, tidak selalu yang performa mesinnya lebih baik bisa dipastikan jadi juara. Keperkasaan performa mesin masih perlu dukungan lain, seperti setingan sistem suspensi, yang akan memberikan kemudahan dalam pengendaraan. Kemudian, sistem pengereman, sehingga bisa membuat sedekat mungkin dengan tikungan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah tuning ECU-nya. Di samping itu faktor juga berperan penting.

Uniknya, mayoritas kelengkapan interior si ungu, seperti AC , masih di tempatnya, sehingga tetap bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari. “Tinggal ganti ECU. Tukar knalpot dan pakai suspensi aslinya, kembali jadi mobil jalanan”, jelas Taqwa, pakar modifikasi mobil yang hobi terbang layang.

114d-estillo

Dapur pacu F16A menjalani proses blueprint dan balanc pada komponen internal, diikuti penggantian onderdil yang dinilai sudah lewat masa pakai. Kepala silinder menjalani 3 angle valve seat job dan diselipkan gasket baru setebal 0,5 mm.

Untuk mempercepat aliran oksigen bersih, saringan udara standar ditukar K&N. Di bidang pengapian, Taqwa memadukan koil Crane Cams PS-91, kabel busi Hurricane, dan busi NGK Racing. Lantas, remapping ECU dan instalasi shift light yang disetel pada 8.200 rpm. Bahan bakarnya gabungan antara 60% premix dengan 40% avigas (aviation gasoline). Tak lupa, bobot roda gila dikurangi sekitar 10%.

Hasilnya, 16,22detik@140,7km/jam untuk akselerasi 0 – 400m alias waktu tercepat dan kecepatan tertinggi dibanding mobil lain sekelasnya. Saat dicoba, akselerasi si ungu terasa kuat dan merata pada berbagai putaran mesin, terutama di rpm menengah. Apalagi mesin dapat dipacu sampai 8.200rpm.

114f-estillo114g-estillo

Di sektor ini, regulasi membolehkan penggantian ukuran suspensi, termasuk pemakaian sistem adjustable untuk jenis suspensi MacPherson strut. Karena itu, Taqwa menukar seluruh suspensi Honda Estilo asli dengan sokbreker Koni Sport dan per Jamex. Lalu seluruh suspensi dikirim langsung ke Australia untuk dilengkapi bushing polyurethane jenis custom made. Dilanjutkan dengan perombakan sistem suspensi yang detilnya dirahasiakan. Tidak sia-sia, karena mobil jadi lebih ‘diam’ alias kian stabil terutama di tikungan. “Setelah pakai bushing polyurethane, catatan waktu tempuh per lap berkurang 2 detik”, lanjut pehobi terbang layang itu. Maksudnya, dari 2:02 menit per lap di Sentul bisa dipertajam jadi 2:00 menit. Memang saat dijalankan di jalan tidak rata, Estilo hanya bounching ke atas ke bawah, sedikit sekali gejala rolling atau goyang kiri kanan. Yang patut diacungi jempol, bantingan suspensinya masih terasa empuk.

114e-estillo