Perawatan ECU (Electronic Control Unit) KONEKTOR KOTOR BISA BIKIN TEROR

Tabloid Otomotif 2002

Listrik ibarat nyawa dalam mesin injeksi. Tanpa arus yang stabil, kinerjanya bakalan tekor. Jika ini terjadi, mogok bukan hal mustahil. Seiring dengan umur yang makin bertambah, ,komputer manajemen mesin dan konektor sensor perlu perawatan.

“ Korosi bisa timbul di konektor yang terbuat dari logam”, terang Taqwa Suryo Swasono, petinggi bengkel GARDEN SPEED.

76-ecu

ECU perlu tegangan yang stabil dan rentan terhadap lonjakan tiba-tiba (electric shick). “Maksimal 14,5 V. Lebih dari itu ECU akan terganggu, dari mesin mbrebet sampai mati”, tambah Taqwa. Oleh karena itu, kondisi altenator sebagai pembangkit listrik mesti dijaga agar tetap prima. Caranya dengan mengecek arus pengisian ke aki saat mesin bekerja. Hubungan pendek (korsleting) di jalur kabel juga bisa menyebabkan electric shock.

Selain itu, seluruh konektor harus bebas dari tumpukan kotoran berupa karat. “Sinyal dari sensor ke ECU bisa terganggu”, timpal Taqwa. Dari konektor di kotak ECU sampai di sensor-sensor. Umumnya mesin injeksi punya beberapa sensor, seperti pengapian (menempel di distributor), throttle body, nosel injektor dan air flow (saluran intake).

Ada baiknya memeriksa kondisi konektor jika mobil sudah memasuki usia di atas 5 tahun. Caranya mudah, copot konenktor saat mesin mati dan amatielektrode logamnya. Jika terjadi tumpukan karat (biasanya berwarna putih mirip tepung), segera bersihkan dengan cairan pembersih (contact cleaner). Sebaiknya hindari cara pembersihan dengan mengampelas konektor, karena berisiko patah akibat ukurannya yang mungil.