ONE OF THE BEST PROFIL – TAQWA SURYO SWASONO

Majalah OTOSPORT April, 2011

ONE OF THE BEST
PROFIL – TAQWA SURYO SWASONO

PRESTASI panjang Taqwa Suryo Swasono di ajang balap turing dibuktikan dengan cara yang berbeda. Lihat saja di musim 2008 saat semua tim beralih ke Honda Jazz RS, Taqwa tetap keukeuh memakai Toyota Vios dengan Fitra Eri sebagai pilot.

1

Kalah tenaga dengan Jazz dan bodi lebih berat tak membuat Taqwa mundur, dengan cerdik justru soal setting suspensi digarap serius hingga handling mobil yang banyak dipakai untuk taksi ini bisa stabil melibas setiap tikungan Sentul hingga jadi juara nasional Grup N 2008.

Bahkan saat kelas Asian Touring Car-Max (ATC-Max) Asian Festival of Speed (AFOS) pada 16 Agustus 2009 di Sentul, Fitra Eri dan Vios tiom Garda Oto naik podium pertama dua kali berturut-turut.

Masih ada lagi bukti tangan dingin dari Taqwa SS.. yaitu mobil milik Robert Paul. Lebih tepatnya ada 2 yaitu Nissan Primera yang turun di kelas supercar dan Alfa Romeo GTV di kelas Super Retro. Semuanya kencang dan jadi juara umum tahun lalu di tangan Taqwa.

47Semuanya itu tentu saja tak datang semudah membalik tangan karena perjalanan panjang bendera Garden Speed berawal di 1996 setelah Taqwa lulus kuliah yang berada di kawasan Cilandak Jakarta Selatan.

2Berawal dari suka ngoprek lalu baca-baca buku dan reierensi terus diminta teman-teman bikin mobil untuk reli jadi diseriusin dengan buka bengkel, saat itu hanya dengan 2 mekanik saja” kata Taqwa.

Makin berkembang setelah masuk ke balap turing di 1998 yang berlanjut ke ajang drag race. Beragam aliran dijabani oleh Garden Speed tak serta merta membuat workshop milik Taqwa ini lalu ‘serakah’ terima semua order mobil balap yang datang.

5

“Dalam setahun saya batasi maksimal 10 mobil saja. mau turing, drifting, reli, drag race atau retro pokoknya cuma bisa pegang 10 mobil balap saja per tahun,” kata mekanik yang lulusan Universitas Trisakti.

4

Tak hanya soal konsentrasi tapi dengan SDM dan lahan di Rempoa yang dimiliki Garden Speed jumlah 10 besutan kompeitisi sudah maksimal, meski Taqwa ingin menambah divisi paint shop kalau ya mencukupi.

Bukan asal selektif, Taqwa melakukan diskusi panjang dengan calon kastemernya sebelum deal terima order bikin mobil balap.

“Ada 3 pertimbangan, pertama soal safety seperti rem dan ban dulu, lalu performence dengan peningkatan tenaga mesin terakhir soal kenyamanan seperti pemilihan suspensi yang lebih empuk untuk mengimbangi ban lebih tipis,” kata Taqwa.

6

Belajar bareng dengan kastemer hingga tak sampai salah menjadi tahapan yang dilakoni Taqwa saat menerima order yag tak biasa. Lihat saja saat Robert Paul meminta bikin kencang Alfa Romeo GTV. Taqwa mencari sederet referensi sebelum bedah mobil klasik Italia itu. Tak banyak tuner yang begini di Indonesia

3

YA TUNER, YA ATLET

SELAIN berprofesi sebagai tuner. Taqwa punya hobi terbang layang yang terbilang serius sejak 1990. Apalagi Taqwa terpilih meniadi atlet aeromodelling mewakili DKI sejak 1996. Hingga Taqwa harus berlatih keras untuk menyambut untuk PON XVI Sumsel 2004 dan PON XVII Kalbar 2008.

“Adrenalinnya sama kok dengan ngebut di sirkuit. sensasinya kalau bisa terbang lebih lama itu yang luar biasa,” kata pria yang memegang rekor terbang selama 5 jam di ketinggian 8.500 kaki di atas tanah. Terbang layang yang memakai pesawat tanpa mesin hingga untuk awalan harus ditarik pesawat kecil hingga mendapatkan awan panas sebagai media pendorong agar melincir.

“Risikonya saat kecepatan nggak bertambah efeknya kayak mesin pesawat berhenti,” kata Taqwa.

Saat ini pemakai glider Schweizer S-26 dari Jerman punya prestasi bagus dengan meraih 3 emas di 3 kelas duration night. goal and race serta precision landing di PON Palembang, lalu 1 emas di kelas duration night saat PON Kalimantan Barat.